Digadang lebih cepat menyebar, virus SARS-CoV-2 varian Omicron telah menginfeksi 10,1% dari 5 juta masyarakat Indonesia yang terinfeksi COVID-19. Untuk itu, kita perlu terus waspada akan penyebarannya dan menjaga kesehatan diri, terutama kesehatan Si Kecil.

Meski anak-anak biasanya memiliki gejala yang lebih ringan, penyebaran varian Omicron berkaitan erat dengan perawatan di rumah sakit dan kunjungan dokter anak di Amerika Serikat. Lalu, seperti apa gejala infeksi Omicron yang bisa muncul pada anak? Apakah infeksi Omicron bisa tingkatkan risiko MIS-C (Multisystem Inflammatory Syndrome in Children)? Yuk, simak jawabannya berikut ini, Moms!

Gejala Omicron pada anak
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada beberapa gejala yang dapat muncul pada anak ketika terinfeksi COVID-19 varian Omicron, yaitu:

* Demam
* Batuk
* Napas pendek atau kesulitan bernapas
* Letih
* Nyeri otot atau nyeri tubuh
* Sakit kepala atau pusing
* Kehilangan kemampuan mengecap rasa atau mengenali aroma
* Radang atau sakit tenggorokan
* Hidung tersumbat atau pilek
* Mual atau muntah
* Diare.

Namun dari 11 gejala di atas, batuk, letih, hidung tersumbat, pilek, dan sakit kepala adalah gejala Omicron yang lebih sering terjadi pada anak. Gejala-gejala ini juga dapat tampak serupa dengan gejala yang dialami oleh orang dewasa.

Mengutip Very Well Health, Daniel S. Ganjian, MD, FAAP, dokter spesialis anak di Providence Saint John’s Health Center di California, mengatakan, “Yang sering kita amati adalah demam, batuk, dan pilek, itulah Omicron. Kadang kami juga memperhatikan adanya muntah dan diare.”

Ia juga mengatakan bahwa anak-anak yang terinfeksi Omicron juga dapat mengalami croup atau batuk kering. “Gejala ini terdengar seperti sedang menggonggong ketika ia batuk,” tutur dr. Ganjian. Segera periksakan Si Kecil jika ia mengalami gejala seperti pilek dan batuk kering ya, Moms.

Meningkatnya risiko MIS-C
Di Amerika Serikat, kasus MIS-C pada anak-anak yang menderita COVID-19 semakin meningkat. MIS-C sendiri adalah komplikasi langka dan serius yang berkaitan erat dengan virus COVID-19. MIS-C terjadi pada anak kecil hingga dewasa muda yang berusia di bawah 21 tahun. Kondisi ini dikenali dengan inflamasi atau peradangan di berbagai sistem organ tubuh, meliputi jantung, paru-paru, ginjal, otak, kulit, mata, serta organ pencernaan.

Faktor risiko MIS-C yang utama adalah infeksi COVID-19. Gejala MIS-C umumnya muncul pada 2-6 minggu setelah infeksi. MIS-C juga bisa dialami oleh anak-anak dengan atau tanpa gejala COVID-19. Kebanyakan anak-anak yang mengalami MIS-C tidak memiliki kondisi medis dasar. Meskipun begitu, anak-anak dengan MIS-C yang melaporkan kondisi medis dasar biasanya mengalami obesitas.

Menurut studi, MIS-C terjadi setiap 1 dari 3.000-4.000 kasus COVID-19 pada anak. Gejala MIS-C yang dapat terjadi, yakni:

* Sakit perut
* Mata merah
* Diare
* Kepala pening (tanda tekanan darah yang rendah)
* Ruam kulit
* Muntah.

Berbagai gejala di atas biasanya terjadi secara bersamaan dengan demam. Karena itu, segera cari pertolongan medis jika Si Kecil tampak kesulitan bernapas, merasakan sakit pada dada yang tidak segera sembuh, linglung atau perilaku yang tak wajar, rasa sakit berlebihan pada area perut, kesulitan untuk bangun atau sadar, serta kulit, kuku, atau bibir yang berwarna pucat dan berwarna kebiruan atau keabu-abuan. (M&B/Gabriela Agmassini/SW/Foto: Prostooleh/Freepik)